Kumpulan motivasi, inspirasi, serta berbagai tips praktis untuk menjaga kesehatan mental
info@ilmci.com (021)5453235/36

Detail Artikel

Kisah Inspiratif: Budaya Akuntabilitas

Dibuat: 03 Januari 2015
Dilihat: 6727
Saya ajak anda mengikuti kisah berikut. Fast Grill, perusahaan makanan, tengah merumuskan berapa pertumbuhsn profit yang harus dicapai agar perusahaan tetap bertahan di tengah sengitnya persaingan bisnis. Dalam suatu rapat. jajaran manajemen membahas bebrapa angka. Ada yang menyebut 3.5%, lalu lainnya 5.5%, tapi ada juga yang usul 7,5%. Jadi, berapa angka pastinya? Mereka menoleh ke sang CEO. Jawaban sang CEO kurang lebih begini,"Antara 3.5% adalah angka yang akan mereka sodorkan kepemegangan saham. Lalu, 5,5% angka yang mestinya bisa mereka capai. Kemudian, angka 7.5% adalah angka bisa diraih jika seluruh jajaran perusahaan betul-betul berkerja keras dan mau memaksa diri. Jadi berapa angkanya? Ketidak jelasan semacam ini bisa menimbulkan masalah bagi perusahaan. Angka mana yang menjadi pegangan bawahan ketika akan membuat rencana kerja untuk mencapai hasil yang diharapkan. Rencana kerja untuk mencapai pertumbuhan [rofit 3.5% tentu sangat berbeda dengan target 5.5%. apalagi yang 7.5% Kasus yang menimpa Fast Grill, saya kira, menimpa kita juga. kita kerap mengalami kesulitan untuk menetapkan satu target yang jelas dan terukur. Kalau tergetnya terlalu tinggi, kita khawatir tidak akan tercapai sehingga bisa mencoreng reputasi jajaran manajemen . Sementara kalau angkanya terlalu rendah . kita juga cemas para pemegang saham akan menilai kita terlalu malas . ATL vs BTL Bagaimana kondisi semacam ini bisa terjadi? Roger Coonnors dan Tom Smith (2004) menuturkan, kasus itu adalah potret dari kurangnya pengembangan budaya akuntabilitas (culture of accountability) di dalam perusahaan Membangun budaya semacam ini jelas bukan perkerjaan satu malam. Di dalam perusahaan, kita bisa memulai dengan memilah-milah perilaku karyawan dalam dua kelompok yang berbeda secara ekstrem .
Share this page: